
Cara membuat barcode produk dimulai dengan menentukan tujuan pemindaian, memilih nomor atau data yang akan dikodekan, membuat simbol yang kompatibel dengan perangkat, menghubungkannya ke basis data produk, lalu menguji hasil cetak. Generator barcode hanya membuat gambar kode. Generator tidak otomatis menerbitkan GTIN resmi.
Barcode bekerja sebagai penghubung antara benda fisik dan data di sistem. Saat dipindai, perangkat membaca angka atau karakter pada simbol, kemudian aplikasi mencari data yang cocok. Nama, harga, dan stok biasanya tersimpan di basis data, bukan langsung di garis barcode.
Tentukan lebih dahulu tempat barcode akan digunakan:
Tujuan tersebut menentukan apakah toko cukup memakai kode internal atau membutuhkan identitas standar seperti GTIN. Jangan memilih format hanya karena tampilannya populer.
| Istilah | Bentuk | Penerbit atau pembuat | Fungsi utama |
|---|---|---|---|
| SKU | Kode huruf dan angka | Dibuat bisnis untuk penggunaan internal | Membedakan unit inventaris |
| GTIN | Nomor identitas produk global | Dialokasikan pemilik merek melalui sistem GS1 | Mengidentifikasi produk dagang lintas organisasi |
| Barcode 1D | Garis dan ruang yang dapat dipindai | Dibuat dari data sesuai standar atau sistem | Merepresentasikan nomor seperti GTIN atau kode internal |
| QR Code | Kode dua dimensi | Dibuat dari teks, URL, atau data yang dipilih | Memuat lebih banyak data dan mudah dipindai kamera |
GS1 menjelaskan hubungan GTIN dan barcode: garis hitam putih pada barcode merupakan bentuk yang dapat dipindai dari nomor GTIN. Artinya, membuat gambar garis tidak sama dengan memperoleh nomor identitas resmi.
Kode internal cukup untuk alur yang sepenuhnya dikendalikan bisnis, misalnya inventaris gudang sendiri atau toko fisik dengan sistem kasir internal. Toko dapat memasukkan SKU ke simbol seperti Code 128, lalu menghubungkan hasil pindai dengan basis data produk.
GTIN diperlukan ketika mitra dagang, peritel, marketplace, atau sistem distribusi meminta identitas produk global. Pemilik merek bertanggung jawab atas alokasi GTIN untuk produknya. Reseller sebaiknya memakai GTIN yang sudah ditetapkan pemilik merek, bukan menerbitkan nomor baru seolah-olah menjadi pemilik produk.
Google Merchant Center menyebut GTIN, MPN, dan merek sebagai pengenal unik produk. Jika suatu produk memiliki GTIN, masukkan nilai yang benar. Jangan memakai nomor acak atau GTIN milik produk lain untuk melewati validasi katalog.
Katalog dan identitas produk perlu konsisten sebelum label dicetak massal. Gunakan fitur Storo untuk katalog, import produk, dan stok sebagai rujukan kemampuan pengelolaan toko. Untuk katalog dari marketplace, panduan migrasi produk Shopee membantu memetakan data lama ke sistem baru.
Produk yang berbeda secara komersial atau operasional biasanya memerlukan identitas berbeda. Perubahan rasa, ukuran, isi, atau paket dapat membuat satu unit tidak dapat diperlakukan sebagai barang yang sama.
| Produk | Varian | SKU internal | Identitas pindai | Alasan dibedakan |
|---|---|---|---|---|
| Kopi Arabika | Biji, 250 g | KOP-ARB-BJI-250 | Barcode untuk SKU atau GTIN varian | Bentuk dan berat berbeda |
| Kopi Arabika | Bubuk, 250 g | KOP-ARB-BBK-250 | Barcode berbeda | Produk yang diambil dari stok berbeda |
| Kopi Arabika | Biji, 500 g | KOP-ARB-BJI-500 | Barcode berbeda | Berat dan harga jual berbeda |
| Kopi Arabika | Paket 2 x 250 g | KOP-ARB-BJI-2P | Barcode paket bila dikelola sebagai unit | Isi dan proses pemenuhan berbeda |
Jika paket hanya dirakit setelah pesanan masuk, sistem dapat memotong stok komponen tanpa menyimpan stok paket terpisah. Namun, identitas paket pada katalog tetap harus dapat ditelusuri. Keputusan tersebut perlu konsisten dengan aturan SKU, stok, dan laporan.
Pemindai membaca nilai pada simbol, misalnya KOP-ARB-BJI-250. Aplikasi menerima nilai tersebut, mencari kecocokan pada kolom SKU atau barcode, lalu menampilkan nama, varian, harga, dan data lain. Jika nilai tidak terdaftar atau terhubung ke dua produk, pemindaian tidak menghasilkan data yang dapat dipercaya.
Pada penerimaan barang, pemindaian dapat menambah jumlah setelah staf mengonfirmasi kuantitas. Pada picking atau penjualan, pemindaian mengurangi stok sesuai transaksi. Setiap perubahan perlu mencatat waktu, pengguna, lokasi, dan referensi dokumen agar kesalahan dapat ditelusuri.
Jika toko menjual produk yang sama di beberapa kanal, jadikan satu identitas internal sebagai referensi utama dan simpan pemetaan untuk setiap platform. Lihat panduan inventaris multi-channel untuk memahami sinkronisasi stok dan katalog.
Cetak sampel menggunakan desain, ukuran, printer, tinta, dan bahan yang sama dengan produksi. Uji pada kondisi nyata, bukan hanya dengan kamera ponsel atau file di layar.
| Yang diuji | Kondisi | Hasil yang diharapkan | Tindakan jika gagal |
|---|---|---|---|
| Pemindai kasir | Jarak dan sudut penggunaan normal | Terbaca dalam satu atau dua percobaan | Periksa simbol, ukuran, kontras, dan data |
| Label final | Bahan matte atau mengilap yang dipilih | Garis tidak melebar atau putus | Sesuaikan printer, tinta, atau bahan |
| Kemasan melengkung | Botol atau pouch | Simbol tetap terbaca dari posisi operasional | Pindahkan area label atau ubah orientasi |
| Kondisi gudang | Cahaya, debu, dan jarak nyata | Pemindaian konsisten | Perbesar label atau perbaiki penempatan |
| Basis data | Produk aktif dan arsip | Satu kode hanya membuka satu produk | Hapus duplikasi dan perbaiki pemetaan |
Simpan hasil pengujian per bahan dan perangkat. Label yang berhasil dipindai pada kertas kantor belum tentu tetap terbaca setelah diperkecil, dilaminasi, ditempel pada botol, atau dicetak massal.
Periksa GTIN melalui layanan resmi seperti Verified by GS1 atau organisasi anggota GS1 setempat. Cocokkan nomor dengan pemilik merek dan produk. Struktur nomor yang lolos pemeriksaan digit belum membuktikan bahwa perusahaan berhak menggunakannya.
Untuk produk reseller, minta data dari produsen atau pemasok resmi. Untuk produk merek sendiri yang membutuhkan GTIN, periksa proses terbaru melalui GS1 Indonesia. Hindari membeli nomor dari sumber yang tidak dapat menjelaskan kepemilikan dan asal alokasinya.
Tidak. Generator membuat simbol visual dari angka, teks, atau URL yang dimasukkan. Status resmi bergantung pada identitas yang dikodekan dan hak penggunaannya. GTIN resmi perlu berasal dari alokasi yang sah, bukan sekadar gambar barcode.
SKU adalah kode internal bisnis. GTIN adalah identitas produk global. Barcode 1D merupakan simbol yang dapat membawa nomor seperti GTIN atau SKU. QR Code adalah simbol 2D yang dapat memuat URL atau data lebih banyak, tetapi tetap membutuhkan sistem untuk menafsirkan informasinya.
Varian yang berbeda dalam ukuran, warna, rasa, isi, harga, atau pengelolaan stok biasanya memerlukan identitas berbeda. Tujuannya agar pemindaian tidak mengarah ke barang yang salah. Untuk aturan GTIN, ikuti ketentuan GS1 dan kebutuhan mitra dagang.
Sering kali tidak. Barcode biasanya menyimpan nomor atau kode. Setelah dipindai, aplikasi memakai nilai tersebut untuk mengambil nama, harga, dan stok dari basis data. Karena itu, perubahan harga tidak harus membuat barcode baru jika identitas produknya tetap.
Tidak selalu. Kebutuhannya bergantung pada volume, gudang, kasir, marketplace, dan mitra distribusi. Toko kecil dapat memakai SKU pada sistem tanpa label barcode. Barcode mulai berguna ketika pemindaian mengurangi input manual dan kesalahan operasional.
Penyebabnya dapat berupa ukuran terlalu kecil, resolusi rendah, kontras buruk, tinta menyebar, ruang kosong terpotong, bahan memantulkan cahaya, atau label ditempel pada permukaan melengkung. Uji selalu pada bahan dan perangkat final.
Cara membuat barcode produk yang benar dimulai dari tujuan, identitas yang tepat, simbol yang kompatibel, hubungan ke basis data, dan pengujian hasil cetak sebelum produksi massal. Untuk UMKM yang ingin merapikan katalog sekaligus membangun webstore, pelajari jasa pembuatan website toko online Storo.
Tim Storo.id siap membantu Anda setup webstore dari data Shopee. Konsultasi gratis!