Kembali ke Blog
SKU Produk

Cara Membuat SKU Produk yang Rapi dan Konsisten

Tim Storo.id
12 Oktober 2026
7 menit baca
Cara Membuat SKU Produk yang Rapi dan Konsisten

Cara membuat SKU produk yang rapi adalah memilih atribut yang stabil, menyusun urutannya secara konsisten, membuat kode unik untuk setiap unit inventaris, lalu menguji kode tersebut pada katalog, gudang, pesanan, dan retur. SKU sebaiknya mudah dibaca tim, tidak memuat harga atau stok, dan tidak digunakan ulang untuk produk berbeda.

Apa Itu SKU dan Apa Bedanya dengan GTIN serta Barcode?

SKU atau stock keeping unit adalah kode internal yang dibuat bisnis untuk membedakan produk dan varian yang dikelola. SKU bukan standar global. Setiap toko dapat menentukan formatnya sendiri selama unik, konsisten, dan sesuai kebutuhan operasional.

Istilah Apa yang diidentifikasi Siapa yang menetapkan Contoh penggunaan
SKU Unit inventaris internal Penjual atau perusahaan Katalog, stok, picking, retur
GTIN Produk dagang secara global Pemilik merek melalui sistem GS1 Ritel, distributor, marketplace
MPN Nomor bagian dari produsen Produsen Komponen, elektronik, suku cadang
Barcode Representasi data yang dapat dipindai Dibuat dari data yang dipilih Memindai SKU, GTIN, atau data lain

Google Merchant Center menjelaskan pengenal unik produk seperti GTIN, MPN, dan merek sebagai identitas yang membantu membedakan produk di pasar global. SKU internal dapat dipakai untuk pengelolaan toko, tetapi jangan mengganti GTIN resmi dengan nomor buatan sendiri jika produk memang sudah memiliki GTIN.

Tentukan Produk dan Varian yang Harus Memiliki SKU Berbeda

Sebelum membuat pola kode, tentukan unit inventarisnya. Dua barang membutuhkan SKU berbeda jika stok, harga, proses picking, atau pelaporannya perlu dibedakan. Jika perbedaan hanya berupa informasi yang tidak memengaruhi unit yang dijual, SKU tambahan mungkin tidak diperlukan.

Produk induk dan varian

Produk induk digunakan untuk mengelompokkan varian, sedangkan SKU ditempelkan pada unit yang benar-benar dapat dibeli. Contohnya, “Kaos Basic” menjadi produk induk. Kaos hitam ukuran M dan kaos hitam ukuran L memiliki SKU berbeda karena stok serta barang yang diambil dari rak berbeda.

Panduan atribut ID dari Google Merchant Center juga memberi contoh ID unik untuk setiap varian dan satu ID kelompok untuk produk induknya. Ini bukan format SKU universal, tetapi prinsip pemisahan varian membantu menjaga data tetap konsisten.

Paket, ukuran, warna, dan isi berbeda

Paket isi dua dan satu unit sebaiknya dibedakan jika masing-masing memiliki stok atau proses pemenuhan tersendiri. Hal yang sama berlaku untuk warna, ukuran, rasa, volume, dan kemasan yang dijual sebagai pilihan terpisah. Jangan mengandalkan nama produk saja karena nama dapat berubah untuk kebutuhan pemasaran.

Cara Membuat SKU Produk Langkah demi Langkah

  1. Audit katalog. Kumpulkan produk aktif, varian, paket, SKU lama, ID marketplace, dan lokasi stok.
  2. Pilih atribut stabil. Gunakan kategori, model, warna, ukuran, atau bahan yang jarang berubah.
  3. Tentukan urutan atribut. Contohnya kategori, model, warna, lalu ukuran.
  4. Buat kamus singkatan. Tetapkan HIT untuk hitam, PTH untuk putih, dan aturan lain agar semua staf memakai kode yang sama.
  5. Pilih pemisah dan kapitalisasi. Gunakan satu pola, misalnya huruf kapital dan tanda hubung.
  6. Tetapkan panjang yang praktis. Kode harus cukup informatif tetapi tetap mudah diketik dan dibaca pada layar kecil.
  7. Cek keunikan. Pastikan tidak ada dua unit inventaris yang memakai SKU sama.
  8. Uji alur nyata. Coba pencarian katalog, impor, picking, retur, dan laporan stok.
  9. Dokumentasikan aturan. Catat format, kamus kode, penanggung jawab, serta prosedur perubahan.

Jika produk berasal dari katalog marketplace, lakukan pemetaan sebelum impor agar ID kanal tidak disamakan dengan SKU master. Panduan migrasi produk Shopee membantu merencanakan perpindahan katalog, sedangkan fitur import produk dan manajemen stok Storo menunjukkan dukungan sistem yang tersedia.

Contoh Format SKU untuk Beberapa Jenis Toko

Contoh berikut bukan standar wajib. Gunakan sebagai cara membaca struktur, lalu sesuaikan dengan atribut yang benar-benar dipakai oleh tim.

Produk induk Varian Contoh SKU Arti kode Status
Kaos Basic Hitam, M KAS-BSC-HIT-M Kaos, Basic, Hitam, M Aktif
Kaos Basic Putih, L KAS-BSC-PTH-L Kaos, Basic, Putih, L Aktif
Kopi Arabika Biji, 250 g KOP-ARB-BJI-250 Kopi, Arabika, Biji, 250 g Aktif
Botol Minum Biru, 750 ml BTL-A01-BRU-750 Botol model A01, Biru, 750 ml Aktif
Kemeja Oxford Model lama, abu, M KMJ-OXF-ABU-M Kemeja, Oxford, Abu, M Arsip, tidak dipakai ulang

Kode tidak harus menjelaskan seluruh informasi produk. Detail lengkap tetap berada di basis data. Jika SKU terlalu panjang karena memuat semua atribut, staf akan lebih sering salah ketik dan format menjadi sulit dipertahankan.

Aturan SKU yang Sebaiknya Ditetapkan Sejak Awal

  • Jangan memakai harga. Harga dapat berubah tanpa mengubah identitas produk.
  • Jangan memakai jumlah stok. Stok adalah nilai bergerak yang tersimpan di sistem.
  • Hindari karakter membingungkan. Bedakan angka nol dan huruf O, serta angka satu dan huruf I jika tim sering mengetik manual.
  • Gunakan kapitalisasi konsisten. Pilih huruf kapital atau format lain lalu terapkan pada seluruh katalog.
  • Jangan mendaur ulang SKU. SKU produk lama tetap diarsipkan agar laporan dan retur historis tidak bercampur.
  • Pisahkan SKU master dari ID kanal. Simpan pemetaan ID marketplace, website, dan sistem gudang di kolom terpisah.
  • Tentukan pemilik proses. Batasi siapa yang boleh membuat, mengubah, dan mengarsipkan SKU.

SKU master membantu menghubungkan produk yang sama pada beberapa kanal. Penerapannya dibahas lebih lanjut dalam panduan mengelola inventaris multi-channel.

Cara Merapikan SKU Lama yang Berantakan

  1. Ekspor katalog beserta SKU, nama produk, varian, stok, dan ID kanal.
  2. Tandai SKU kosong, duplikat, terlalu mirip, atau tidak sesuai pola.
  3. Tetapkan format baru dan kamus singkatan sebelum mulai mengganti.
  4. Buat tabel pemetaan dari SKU lama ke SKU baru.
  5. Uji impor pada salinan data atau kelompok produk kecil.
  6. Periksa dampaknya pada pesanan terbuka, retur, laporan, dan integrasi.
  7. Migrasikan bertahap dan simpan SKU lama sebagai referensi historis.

Jangan mengganti seluruh katalog pada jam operasional tanpa rencana pemulihan. SKU sering menjadi kunci yang menghubungkan banyak sistem. Perubahan kecil pada satu kolom dapat membuat stok atau pesanan gagal dipetakan jika integrasi masih membaca kode lama.

Checklist Validasi Sebelum SKU Dipakai

Pemeriksaan Lulus Perlu diperbaiki
Keunikan Setiap unit inventaris memiliki satu SKU unik Ada SKU kosong atau duplikat
Atribut Kode memakai atribut yang stabil Kode memuat harga atau stok
Konsistensi Urutan, pemisah, dan kapitalisasi seragam Format berbeda antarstaf atau kategori
Keterbacaan Tim dapat membaca dan mengetik kode Kode terlalu panjang atau membingungkan
Integrasi Impor, stok, pesanan, dan retur teruji Ada sistem yang masih membaca kode lama
Dokumentasi Aturan dan kamus kode tersimpan Format hanya diketahui satu orang

Menjaga Tata Kelola SKU Setelah Diluncurkan

Tunjuk satu pemilik proses untuk menyetujui pola baru dan menangani pengecualian. Tim katalog boleh mengusulkan SKU, tetapi sistem perlu memeriksa duplikasi sebelum produk diaktifkan. Simpan tanggal pembuatan, pembuat, status, dan alasan perubahan sebagai jejak audit sederhana.

Lakukan audit berkala untuk mencari SKU kosong, duplikat, format menyimpang, dan produk arsip yang masih menerima transaksi. Ketika bisnis membuka kategori baru, perluas kamus kode tanpa mengubah SKU lama yang masih valid. Stabilitas identitas lebih penting daripada membuat seluruh katalog terlihat seragam secara retroaktif.

Jika beberapa staf mengunggah produk, sediakan template impor dengan validasi kolom. Tolak baris yang tidak memenuhi pola sebelum masuk ke katalog utama. Pemeriksaan di awal lebih murah daripada memperbaiki pesanan dan stok setelah kode yang salah tersebar ke banyak kanal.

Kesalahan Umum dalam Membuat SKU

  • Menganggap SKU harus sama dengan barcode atau GTIN.
  • Membuat kode tanpa menentukan unit inventaris terlebih dahulu.
  • Menggunakan singkatan berbeda untuk atribut yang sama.
  • Memasukkan harga, stok, atau lokasi rak yang sering berubah.
  • Mengubah SKU tanpa tabel pemetaan.
  • Menggunakan kembali SKU produk yang sudah diarsipkan.
  • Menyamakan SKU master dengan ID dari setiap marketplace.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah setiap varian memerlukan SKU berbeda?

Ya, jika varian memiliki stok, harga, proses picking, atau pelaporan yang perlu dibedakan. Warna dan ukuran yang dipilih pelanggan biasanya membutuhkan SKU unik. Produk induk dapat memakai ID kelompok terpisah tanpa menjadi unit stok yang dijual.

Apakah SKU sama dengan GTIN atau barcode?

Tidak. SKU adalah kode internal buatan bisnis. GTIN merupakan identitas produk global yang umumnya dialokasikan oleh pemilik merek melalui sistem GS1. Barcode adalah simbol yang dapat memuat SKU, GTIN, atau data lain agar bisa dipindai.

Bolehkah SKU lama dipakai untuk produk baru?

Sebaiknya tidak. Penggunaan ulang dapat mencampur riwayat pesanan, stok, laporan, dan retur antara dua produk berbeda. Arsipkan SKU lama serta status produknya, lalu buat SKU unik untuk produk baru.

Apakah SKU harus sama di semua kanal?

SKU master sebaiknya konsisten sebagai acuan internal. Namun, marketplace atau sistem lain dapat memiliki ID kanal sendiri. Simpan pemetaan antara SKU master dan setiap ID kanal agar integrasi tetap berjalan tanpa memaksa semua sistem memakai struktur identik.

Bagaimana memperbaiki SKU yang berantakan?

Audit katalog, tentukan format baru, buat tabel pemetaan lama ke baru, lalu uji pada kelompok kecil. Periksa pesanan terbuka, retur, stok, dan integrasi sebelum migrasi penuh. Simpan SKU lama sebagai referensi historis.

Apakah SKU perlu memuat harga atau stok?

Tidak. Harga dan stok berubah, sedangkan SKU sebaiknya menjadi identitas yang stabil. Simpan harga, stok, dan lokasi pada kolom terpisah di sistem. SKU cukup membantu tim menemukan unit inventaris yang tepat.

Kesimpulan

Cara membuat SKU produk yang rapi dimulai dari unit inventaris, bukan dari pola singkatan. Pilih atribut stabil, buat kode unik, dokumentasikan aturan, dan uji seluruh alur operasional sebelum migrasi. Jika katalog perlu dipindahkan sekaligus dirapikan ke webstore, lihat layanan pembuatan website toko online Storo.

Butuh Bantuan Setup Webstore?

Tim Storo.id siap membantu Anda setup webstore dari data Shopee. Konsultasi gratis!