
Cara membuat SKU produk yang rapi adalah memilih atribut yang stabil, menyusun urutannya secara konsisten, membuat kode unik untuk setiap unit inventaris, lalu menguji kode tersebut pada katalog, gudang, pesanan, dan retur. SKU sebaiknya mudah dibaca tim, tidak memuat harga atau stok, dan tidak digunakan ulang untuk produk berbeda.
SKU atau stock keeping unit adalah kode internal yang dibuat bisnis untuk membedakan produk dan varian yang dikelola. SKU bukan standar global. Setiap toko dapat menentukan formatnya sendiri selama unik, konsisten, dan sesuai kebutuhan operasional.
| Istilah | Apa yang diidentifikasi | Siapa yang menetapkan | Contoh penggunaan |
|---|---|---|---|
| SKU | Unit inventaris internal | Penjual atau perusahaan | Katalog, stok, picking, retur |
| GTIN | Produk dagang secara global | Pemilik merek melalui sistem GS1 | Ritel, distributor, marketplace |
| MPN | Nomor bagian dari produsen | Produsen | Komponen, elektronik, suku cadang |
| Barcode | Representasi data yang dapat dipindai | Dibuat dari data yang dipilih | Memindai SKU, GTIN, atau data lain |
Google Merchant Center menjelaskan pengenal unik produk seperti GTIN, MPN, dan merek sebagai identitas yang membantu membedakan produk di pasar global. SKU internal dapat dipakai untuk pengelolaan toko, tetapi jangan mengganti GTIN resmi dengan nomor buatan sendiri jika produk memang sudah memiliki GTIN.
Sebelum membuat pola kode, tentukan unit inventarisnya. Dua barang membutuhkan SKU berbeda jika stok, harga, proses picking, atau pelaporannya perlu dibedakan. Jika perbedaan hanya berupa informasi yang tidak memengaruhi unit yang dijual, SKU tambahan mungkin tidak diperlukan.
Produk induk digunakan untuk mengelompokkan varian, sedangkan SKU ditempelkan pada unit yang benar-benar dapat dibeli. Contohnya, “Kaos Basic” menjadi produk induk. Kaos hitam ukuran M dan kaos hitam ukuran L memiliki SKU berbeda karena stok serta barang yang diambil dari rak berbeda.
Panduan atribut ID dari Google Merchant Center juga memberi contoh ID unik untuk setiap varian dan satu ID kelompok untuk produk induknya. Ini bukan format SKU universal, tetapi prinsip pemisahan varian membantu menjaga data tetap konsisten.
Paket isi dua dan satu unit sebaiknya dibedakan jika masing-masing memiliki stok atau proses pemenuhan tersendiri. Hal yang sama berlaku untuk warna, ukuran, rasa, volume, dan kemasan yang dijual sebagai pilihan terpisah. Jangan mengandalkan nama produk saja karena nama dapat berubah untuk kebutuhan pemasaran.
Jika produk berasal dari katalog marketplace, lakukan pemetaan sebelum impor agar ID kanal tidak disamakan dengan SKU master. Panduan migrasi produk Shopee membantu merencanakan perpindahan katalog, sedangkan fitur import produk dan manajemen stok Storo menunjukkan dukungan sistem yang tersedia.
Contoh berikut bukan standar wajib. Gunakan sebagai cara membaca struktur, lalu sesuaikan dengan atribut yang benar-benar dipakai oleh tim.
| Produk induk | Varian | Contoh SKU | Arti kode | Status |
|---|---|---|---|---|
| Kaos Basic | Hitam, M | KAS-BSC-HIT-M | Kaos, Basic, Hitam, M | Aktif |
| Kaos Basic | Putih, L | KAS-BSC-PTH-L | Kaos, Basic, Putih, L | Aktif |
| Kopi Arabika | Biji, 250 g | KOP-ARB-BJI-250 | Kopi, Arabika, Biji, 250 g | Aktif |
| Botol Minum | Biru, 750 ml | BTL-A01-BRU-750 | Botol model A01, Biru, 750 ml | Aktif |
| Kemeja Oxford | Model lama, abu, M | KMJ-OXF-ABU-M | Kemeja, Oxford, Abu, M | Arsip, tidak dipakai ulang |
Kode tidak harus menjelaskan seluruh informasi produk. Detail lengkap tetap berada di basis data. Jika SKU terlalu panjang karena memuat semua atribut, staf akan lebih sering salah ketik dan format menjadi sulit dipertahankan.
SKU master membantu menghubungkan produk yang sama pada beberapa kanal. Penerapannya dibahas lebih lanjut dalam panduan mengelola inventaris multi-channel.
Jangan mengganti seluruh katalog pada jam operasional tanpa rencana pemulihan. SKU sering menjadi kunci yang menghubungkan banyak sistem. Perubahan kecil pada satu kolom dapat membuat stok atau pesanan gagal dipetakan jika integrasi masih membaca kode lama.
| Pemeriksaan | Lulus | Perlu diperbaiki |
|---|---|---|
| Keunikan | Setiap unit inventaris memiliki satu SKU unik | Ada SKU kosong atau duplikat |
| Atribut | Kode memakai atribut yang stabil | Kode memuat harga atau stok |
| Konsistensi | Urutan, pemisah, dan kapitalisasi seragam | Format berbeda antarstaf atau kategori |
| Keterbacaan | Tim dapat membaca dan mengetik kode | Kode terlalu panjang atau membingungkan |
| Integrasi | Impor, stok, pesanan, dan retur teruji | Ada sistem yang masih membaca kode lama |
| Dokumentasi | Aturan dan kamus kode tersimpan | Format hanya diketahui satu orang |
Tunjuk satu pemilik proses untuk menyetujui pola baru dan menangani pengecualian. Tim katalog boleh mengusulkan SKU, tetapi sistem perlu memeriksa duplikasi sebelum produk diaktifkan. Simpan tanggal pembuatan, pembuat, status, dan alasan perubahan sebagai jejak audit sederhana.
Lakukan audit berkala untuk mencari SKU kosong, duplikat, format menyimpang, dan produk arsip yang masih menerima transaksi. Ketika bisnis membuka kategori baru, perluas kamus kode tanpa mengubah SKU lama yang masih valid. Stabilitas identitas lebih penting daripada membuat seluruh katalog terlihat seragam secara retroaktif.
Jika beberapa staf mengunggah produk, sediakan template impor dengan validasi kolom. Tolak baris yang tidak memenuhi pola sebelum masuk ke katalog utama. Pemeriksaan di awal lebih murah daripada memperbaiki pesanan dan stok setelah kode yang salah tersebar ke banyak kanal.
Ya, jika varian memiliki stok, harga, proses picking, atau pelaporan yang perlu dibedakan. Warna dan ukuran yang dipilih pelanggan biasanya membutuhkan SKU unik. Produk induk dapat memakai ID kelompok terpisah tanpa menjadi unit stok yang dijual.
Tidak. SKU adalah kode internal buatan bisnis. GTIN merupakan identitas produk global yang umumnya dialokasikan oleh pemilik merek melalui sistem GS1. Barcode adalah simbol yang dapat memuat SKU, GTIN, atau data lain agar bisa dipindai.
Sebaiknya tidak. Penggunaan ulang dapat mencampur riwayat pesanan, stok, laporan, dan retur antara dua produk berbeda. Arsipkan SKU lama serta status produknya, lalu buat SKU unik untuk produk baru.
SKU master sebaiknya konsisten sebagai acuan internal. Namun, marketplace atau sistem lain dapat memiliki ID kanal sendiri. Simpan pemetaan antara SKU master dan setiap ID kanal agar integrasi tetap berjalan tanpa memaksa semua sistem memakai struktur identik.
Audit katalog, tentukan format baru, buat tabel pemetaan lama ke baru, lalu uji pada kelompok kecil. Periksa pesanan terbuka, retur, stok, dan integrasi sebelum migrasi penuh. Simpan SKU lama sebagai referensi historis.
Tidak. Harga dan stok berubah, sedangkan SKU sebaiknya menjadi identitas yang stabil. Simpan harga, stok, dan lokasi pada kolom terpisah di sistem. SKU cukup membantu tim menemukan unit inventaris yang tepat.
Cara membuat SKU produk yang rapi dimulai dari unit inventaris, bukan dari pola singkatan. Pilih atribut stabil, buat kode unik, dokumentasikan aturan, dan uji seluruh alur operasional sebelum migrasi. Jika katalog perlu dipindahkan sekaligus dirapikan ke webstore, lihat layanan pembuatan website toko online Storo.
Tim Storo.id siap membantu Anda setup webstore dari data Shopee. Konsultasi gratis!