
Marketplace adalah platform jualan milik pihak ketiga (Shopee, Tokopedia, TikTok Shop) di mana banyak seller berjualan di satu tempat. Website sendiri adalah toko online di domain milikmu, dikelola langsung tanpa perantara. Keduanya bisa menghasilkan, tapi dengan cara kerja, biaya, dan risiko yang sangat berbeda.
Berikut perbandingan detail 6 aspek utama yang paling memengaruhi keuntungan dan pertumbuhan bisnis online kamu.
| Aspek | Marketplace (Shopee, Tokopedia) | Website Sendiri (misal: Storo.id) |
|---|---|---|
| Biaya transaksi | 23–28% dari nilai jual (komisi + layanan + program) | 5% dari nilai jual |
| Biaya bulanan | Rp 0 (tapi potongan per transaksi besar) | Rp 199.000–750.000/bulan |
| Data pelanggan | Tidak bisa diakses — milik platform | 100% milik seller (nama, nomor HP, alamat, histori beli) |
| Persaingan | Banyak kompetitor di halaman yang sama, perang harga | Tidak ada kompetitor di halaman toko kamu |
| Branding | Terbatas — logo dan nama toko saja | Bebas — desain, warna, font, domain sesuai brand |
| Setup | Mudah dan cepat, bisa langsung berjualan | Perlu setup (via Storo.id: 1–3 hari kerja) |
| Traffic awal | Sudah ada — memanfaatkan traffic marketplace | Perlu dibangun via SEO, iklan, atau redirect dari marketplace |
| Risiko suspend | Akun bisa disuspend kapan saja tanpa pemberitahuan | Kamu yang punya kontrol penuh |
| Program loyalitas | Terbatas pada voucher toko di platform | Bebas buat program apapun (poin, member, diskon khusus) |
Ada kondisi di mana berjualan di marketplace tanpa website sendiri masuk akal, setidaknya untuk sementara:
Tapi perlu diingat: posisi kamu di marketplace sangat bergantung pada kebijakan platform yang bisa berubah kapan saja — biaya, algoritma, atau bahkan suspend akun.
Beberapa sinyal yang menunjukkan sudah saatnya punya website sendiri:
Ini adalah strategi yang paling banyak dipakai seller Indonesia yang sudah di level menengah ke atas: tetap aktif di marketplace untuk akuisisi pelanggan baru, sambil mendorong repeat buyer ke website sendiri.
Cara kerjanya:
Simulasi sederhana: seller dengan omzet Rp 50 juta/bulan yang berhasil memindahkan 40% repeat order ke website sendiri bisa menghemat hingga Rp 3,6–5,6 juta per bulan hanya dari selisih biaya transaksi.
Untuk seller Shopee yang ingin mulai strategi hybrid ini, platform website e-commerce kami dirancang khusus untuk transisi ini — integrasi mudah, setup cepat, dan biaya yang tidak menguras margin.
Tidak. Mayoritas seller sukses menjalankan keduanya bersamaan. Marketplace tetap jadi sumber traffic, sementara website sendiri digunakan untuk meningkatkan margin dari repeat buyer dan membangun brand.
Via Storo.id, biaya mulai dari Rp 199.000 per bulan sudah termasuk domain, hosting, payment gateway, dan integrasi kurir. Setup dilakukan tim Storo, bukan kamu sendiri.
Tidak secara langsung. Marketplace tidak memberikan nomor HP atau email pembeli. Cara paling umum adalah mengumpulkan data via kartu ucapan di dalam paket, mendorong pelanggan untuk registrasi langsung di website kamu.
Traffic organik dari SEO biasanya mulai terasa dalam 3–6 bulan. Sebelum itu, kamu bisa arahkan traffic via link di bio Instagram, WhatsApp Business, atau iklan berbayar yang lebih murah karena tidak ada biaya komisi marketplace.
Risiko utama adalah manajemen stok ganda dan harga yang tidak konsisten. Storo.id menyediakan integrasi manajemen order yang membantu seller mengelola ini dari satu dashboard.
Marketplace memberikan traffic instan tapi memotong margin besar dan tidak memberikan akses data pelanggan. Website sendiri butuh investasi awal dan waktu membangun traffic, tapi memberikan kontrol penuh, margin lebih tinggi, dan aset bisnis jangka panjang yang tidak bisa dicabut platform manapun.
Jika kamu sudah punya volume penjualan di Shopee atau Tokopedia, ini saat yang tepat untuk mulai bangun webstore sendiri. Tim kami siap membantu — lihat opsi paket dan mulai konsultasi di halaman website e-commerce Indonesia.
Tim Storo.id siap membantu Anda setup webstore dari data Shopee. Konsultasi gratis!